Jenis-Jenis Antibodi
Antibodi mempunyai 5 jenis yang berbeda, yaitu IgG,
IgA, IgM, IgD, dan IgE.
1. Imunoglobulin G
Merupakan jenis Ig terbanyak pada tubuh, dan
satu-satunya Ig yang dapat menembus plasenta sebagai pertahanan pada bayi. IgG
mempunyai 4 subkelas, yaitu IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4.
2. Imunoglobulin A
Merupakan jenis Ig terbanyak kedua pada tubuh. Ig ini
berfungsi menjaga permukaan luar tubuh. Biasanya ditemukan pada air mata,
saliva, kolostrum, dan mukus. IgA mempunyai 2 subkelas, yaitu IgA1 dan IgA2
3. Imunoglobulin M
Merupakan jenis Ig yang paling baik dalam mengikat
komplemen karena strukturnya yang pentamer. Ig ini disekresi pada tahap awal
respon sel plasma sehingga berada pada permukaan sel B sebagai reseptor
antigen.
4. Imunoglobulin D
Ig ini juga berada pada permukaan sel B sebagai
reseptor antigen, namun tidak dapat mengikat komplemen.
5. Imunoglobulin E
Merupakan jenis Ig yang paling sedikit pada tubuh. Ig
ini berfungsi sebagai mediator pelepasan histamin sebagai respon alergi.
Pengertian dan Fungsi
Antigen Antibodi - Hai sobat Kidung Kawan yang budiman, kali ini admin akan
me-review sedikit mengenai antigen antibodi. Antigen antibodi ini masih
berhubungan dengan artikel sebelumnya, baca : Pengertian,
Fungsi dan Mekanisme Sistem Imun Tubuh Manusia. Berikut pembahasan
mengenai antigen antibodi.
Antigen dan antibodi merupakan
substansi yang berhubungan karena adanya antigen akan menyebabkan produksi
antibodi. Antibodi yang telah diproduksi akan menghambat kinerja antigen yang
menjadi penyebab suatu penyakit. Oleh karena itu, mari kita bahas satu per
satu.
Pengertian Antigen
Antigen adalah
suatu substansi yang dianggap asing oleh tubuh, dan akan memacu terjadinya
respon imun yang akan akhirnya akan memacu produksi antibodi. Antigen yang berhasil
masuk ke dalam tubuh akan mengaktifkan berbagai respon imun spesifik maupun
non-spesifik. Jika antigen ini tidak
ditangani dengan baik oleh sistem imun kita, antigen tersebut dapat
menimbulkan penyakit sesuai dengan jenis penyakit yang dibawanya.
Struktur Antigen
Secara fungsional antigen dibagi menjadi
2, yaitu :
1. Imunogen
Imunogen adalah molekul
besar dari sebuah antigen yang bersifat sebagai molekul pembawa karena membawa
molekul kecil (hapten) dari suatu antigen. Imunogen ini dapat dikenal oleh
antibodi dan memacu pembentukan antibodi (imunogenik)
2. Hapten
Hapten adalah molekul
kecil yang mempunyai kandungan antigenik (molekul karier) yang diikat oleh
molekul besar (imunogen). Namun hapten ini tidak dapat memacu produksi antibodi
jika tidak berikatan dengan molekul besar sehingga disebut sebagai molekul
non-imunogenik.
Pengertian dan Fungsi Antigen Antibodi
|
Klasifikasi Antigen
Antigen dapat dibagi
jenisnya berdasarkan asal, determinan, spesifitas, dan bahan kimianya. Berikut
pembagiannya.
1. Berdasarkan Asal
a. Eksogen, karena berasal dari
luar tubuh
b. Endogen, karena berasal dari
dalam tubuh
2. Berdasarkan Determinan
Determinan adalah komponen antigen yang dapat
menginduki atau memacu pembetukan antibodi.
a. Unideterminan univalen : hanya
memiliki satu jenis determinan dan jumlahnya satu
b. Unideterminan multivalen : hanya
memiliki satu jenis determinan namun berjumlah lebih dari satu pada satu molekul
c. Multideterminan univalen : memiliki
dua atau lebih jenis determinnan namun hanya berjumlah satu pada setiap jenis
determinannya
d. Multideterminan multivalen :
memiliki dua atau lebih jenis determinan dan setiap jenisnya berjumlah lebih
dari satu.
3. Berdasarkan Spesifitas
a. Heteroantigen : dimiliki oleh
banyak spesies
b. Xenoantigen : dimiliki oleh
banyak spesies namun hanya spesies tertentu saja
c. Aloantigen : dimiliki oleh
individu dalam satu spesies saja
d. Antigen Organ Spesifik : hanya
dimiliki oleh organ tertentu saja
e. Autoantigen : berasal dari
tubuh sendiri
4. Berdasarkan Bahan Kimia
a. Polisakarida
b. Lipid
c. Asam nukleat
d. Protein
Pada umumnya, antigen yang tersusun oleh
polisakarida dan protein bersifat imunogenik, sedangkan jika tersusun oleh
lipid dan asam nukleat biasanya tidak imunogenik kecuali berikatan dengan
protein pembawa.
Pengertian Antibodi
Antibodi adalah sekelompok
substansi protein yang diproduksi karena adanya pajanan antigen terhadap
limfosit. Antibodi bisa juga disebut sebagai imunoglobulin (Ig).
Struktur Antibodi
Antibodi tersusun oleh 4
rantai polipeptida (2 rantai polipeptida berat atau "heavy chain"
dan 2 polipeptida ringan atau "light chain". Antibodi
mempunyai bentuk seperti huruf Y. Kedua lengan bagian atas disebut daerah variable,
karena dapat berubah-ubah sesuai dengan antigen yang diikat. Sedangkan
lengan bagian bawah disebut daerah constan, karena daerah tersebut tidak
dapat berubah bentuk.
Penyakit autoimun adalah kelainan tubuh yang disebabkan oleh reaksi respon
imun terhadap sel tubuh sendiri yang dianggap sebagai antigen, sehingga
menyebabkan kerusakan organ tubuh. Biasanya antibodi yang menyerang diri
sendiri ini bisa terbentuk karena adanya rangsangan virus sebelumnya, sehingga
antibodi ikut beredar ke seluruh tubuh dan dapat memberikan kerusakan organ
pada tubuh kita. Gangguan autoimun dapat mempengaruhi satu atau lebih organ
atau jaringan. Organ dan jaringan yang umumnya terkena oleh gangguan autoimun
adalah sel darah merah, pembuluh darah, jaringan ikat, kelenjar endokrin
seperti tiroid atau pankreas, otot, sendi, dan kulit.
Reaksi autoimun dapat dicetuskan oleh beberapa hal :
1.
Senyawa yang ada di badan yang normalnya dibatasi di area tertentu
(disembunyikan dari sistem kekebalan tubuh) dilepaskan ke dalam aliran darah.
Misalnya, pukulan ke mata bisa membuat cairan di bola mata dilepaskan ke dalam
aliran darah. Cairan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali mata
sebagai benda asing dan menyerangnya.
2.
Senyawa normal di tubuh berubah. Misalnya oleh virus, obat, sinar matahari,
atau radiasi. Bahan senyawa yang berubah mungkin kelihatannya asing bagi sistem
kekebalan tubuh. Misalnya, virus bisa menulari dan mengubah sel di badan. Sel
yang ditulari oleh virus merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menyerangnya.
3.
Senyawa asing yang menyerupai senyawa badan alami mungkin memasuki badan.
Sistem kekebalan tubuh dengan kurang hati-hati dapat menjadikan senyawa badan
mirip seperti bahan asing sebagai sasaran. Misalnya, bakteri penyebab sakit
kerongkongan mempunyai beberapa antigen yang mirip dengan sel jantung manusia.
Jarang terjadi, sistem kekebalan tubuh dapat menyerang jantung manusia sesudah
sakit kerongkongan (reaksi ini bagian dari deman reumatik).
4.
Sel yang mengontrol produksi antibodi misalnya, limfosit B (salah satu sel
darah putih) mungkin rusak dan menghasilkan antibodi abnormal yang menyerang
beberapa sel badan.
5.
Keturunan mungkin terlibat pada beberapa kekacauan autoimun. Pada orang yang
rentan, satu pemicu seperti infeksi virus atau kerusakan jaringan, dapat
membuat kekacauan berkembang. Faktor Hormonal juga mungkin dilibatkan, karena
banyak kekacauan autoimun lebih sering terjadi pada wanita.
Contoh-contoh penyakit autoimun, diantaranya:
1.
Hepatitis oleh virus hepatitis C
Penyakit hepatitis akibat serangan virus hepatitis C terjadi akibat
antibody menyerang tubuh sendiri. Antibody tersebut semula dibuat sebagai respon
tubuh terhadap paparan antigen antara lain virus, akan tetapi sekuen asam amino
dari protein virus mirip dengan sekuen protein dari jaringan tubuh, sehingga
antibody yang ada dapat merusak jaringan tubuh sendiri.
2.
Graves’disease (gangguan autoimun yang mengarah ke kelenjar tiroid
hiperaktif)
Penyakit Graves timbul sebagai akibat dari produksi antibody yang
merangsang tiroid. Mekanisme respon autoimun yang terjadi pada penyakit graves,
melibatkan reaksi antibody yang disebut dengan long acting thyroid
stimulator bereaksi dengan reseptor thyroid stimulating hormone yang
terdapat pada pemukaan kelenjar tiroid, sehingga meningkatkan produksi hormone
tiroid yang berlebihan.
3.
Myasthenia gravis (gangguan neuromuskuler yang melibatkan otot dan
saraf)
Penyakit myasthenia gravis merupakan penyakit autoimun yang mengakibatkan
kelemahan otot secara progresif. Hal ini disebabkan karena antibody menutupi
reseptor asetilkolin dengan immunoglobulin dapat mencegah penerimaan impuls
saraf, yang dalam keadaan normal disalurkan oleh molekul asetilkolin, sehingga
menimbulkan kelemahan otot. Apabila otot yang diserang adalah otot diafragma.
Maka diafragma tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga dapat menyebabkan
kegagalan pernafasan dan kematian.
4.
Systemic lupus erythematosus/SLE (gangguan autoimun kronis,
yang mempengaruhi kulit, sendi, ginjal, dan organ lainnya)
Penyakit lupus yang dalam bahasa kedokterannya dikenal sebagai systemic
lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit radang yang menyerang banyak sistem
dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai
adanya antibodi yang menyerang tubuhnya sendiri. Lupus atau systemic lupus
erythematosus (SLE) lebih sering ditemukan pada ras tertentu seperti ras kulit
hitam, cina, dan filipina. Penyakit ini terutama diderita oleh wanita muda
dengan puncak kejadian pada usia 15-40 tahun (selama masa reproduktif) dengan
perbandingan wanita dan laki-laki 5:1.
Penyebab dan mekanisme terjadinya SLE masih belum diketahui dengan jelas,
akan tetapi pada beberapa penderita ditemukan antibody yang spesifik terhadap
beberapa komponen tubuhnya sendiri termasuk terhadap DNA, yang diduga
dilepaskan pada saat penghancuran sel atau jaringan secara normal, terutama
sel-sel kulit. Pada penderita yang secara genetik menunjukkan predisposisi
untuk penyakit SLE, dijumpai gangguan sistem regulasi sel T dan fungsi sel B
yang dapat diinduksi oleh beberapa faktor. Selain faktor genetik yang abnormal,
lingkungan juga berperan sebagai faktor pemicu bagi seseorang yang sebelumnya
sudah memiliki gen abnormal. Sampai saat ini, jenis pemicunya masih belum
jelas, namun diduga kontak sinar matahari, infeksi virus/bakteri, obat golongan
sulfa, penghentian kehamilan, dan trauma psikis maupun fisik.
Gejala yang umum dijumpai adalah:
Kulit yang mudah
gosong akibat sinar matahari serta timbulnya gangguan pencernaan.
Gejala umumnya
penderita sering merasa lemah, kelelahan yang berlebihan, demam dan
pegal-pegal. Gejala ini terutama didapatkan pada masa aktif, sedangkan pada
masa remisi (nonaktif) menghilang.
Pada kulit, akan
muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip kupu-kupu. Kadang
disebut (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di
kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang bersisik. Melihat banyaknya
gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala
saja, harus dicurigai mengidap Lupus.
Anemia yang
diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh penyakit lupus ini.
Rambut yang sering
rontok dan rasa lelah yang berlebihan.
Sistem imun kadang
merespons secara berlebihan atau hipereaktif terhadap suatu benda asing
sehingga antigen yang masuk ini disebut alergen dan bisa menumbulkan gejala
seperti bengkak, mata berair, pilek alergi, bahkan bisa menimbulkan reaksi
alergi hebat yang mengancam jiwa yang disebut anafilaksis. Berbagai macam
reaksi alergi yang ditimbulkan antara lain adalah asma, eksim, pilek alergi,
batuk alergi, alergi makanan, alergi obat dan alergi terhadap toksin.
Jumlah antibodi bisa diukur
secara tak langsung dengan jumlah CD4. Jika jumlahnya kurang maka dicurigai
seseorang mempunyai penyakit immunocompromized dimana daya tahan tubuhnya
sangat rendah, hal ini bisa terjadi pada orang yang terkena HIV/AIDS, dan non
HIV (pengguna kortikosteroid lama, individu yang terkena kanker,penyakit kronik
seperti gagal ginjal, gagal jantung, diabetes, dan lain-lain).
5.
Reumatoid arthritis (radang sendi)
Rheumatoid arthritis merupakan kelainan sendi yang disebabkan oleh reaksi
kompleks imun antara IgM, IgG, dan komplemen pada persendian. Reaksi kompleks
imun yang terjadi antara faktor rheumatoid dengan bagian Fc-IgG yang ditimbun
pada sendi sinovia akan mengaktifkan system komplemen dan melepas mediator
kemotaksis terhadap granulosit. Respon inflamasi yang disertai permiabilitas
vaskuler menimbulkan pembengkakan sendi dan sakit bila eksudat bertambah
banyak. Senyawa enzimatik yang dilepas oleh neutrofil segera memecah kolagen
dan tulang rawan sendi yang menimbulkan destruksi permukaan sendi sehingga
mengganggu fungsi normal sendi. Akibat inflamasi yang berulang dapat terjadi
penimbunan fibrin dan penggantian tulang rawan oleh jaringan ikat, sehingga
sendi sulit digerakkan.
6.
Multiple sclerosis (gangguan autoimun yang mempengaruhi otak dan sistem saraf
pusat tulang belakang)
Penyakit multiple sclerosis merupakan salah satu contoh reaksi autoimun
dimana sel T dan makrofag dapat merusak sel-sel saraf.
Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, akan tetapi secara
epidemiologi diduga bahwa beberapa jenis mikroorganisme pathogen terlibat dalam
proses perjalanan penyakit. Infeksi virus Epstein-Barr seringkali disebut
sebagai penyebab utamanya.
Gejala penyakit ini sangat beragam mulai dari kelelahan yang kronis sampai
kelumpuhan (paralysis). Perkembangan penyakit ini sangat lambat dan dapat
berlangsung selama bertahun-tahun.
Belum ditemukan obat untuk mengatasi kondisi penderita, akan tetapi
pemberian interferon dan beberapa obat untuk memperbaiki system imunitas dapat
memperlambat keparahan penyakit.
7.
Diabetes mellitus tipe I
Penyakit autoimun lainnya yaitu diabetes mellitus yang tergantung pada
insulin (insulin dependent diabetes mellitus). Melalui mekanisme reaksi
yang sama, respon imun seluler dapat merusak sel-sel pancreas yang mensekresi
insulin. Kerusakan sel pancreas dapat mengakibatkan penyakit diabetes yang
selalu tergantung pada insulin.
8.
Varisela
Varisela adalah infeksi virus akut yang ditandai dengan adanya vesikel pada
kulit yang sangat menular. Penyakit ini disebut juga chicken pox, cacar air,
atau varisela zoster. Varisela disebabkan oleh Herpesvirus varicellae atau
Human (alpha) herpes virus-3 (HHV3). Penyakit ini menyerang semua
usia, kekebalan varisela berlangsung seumur hidup setelah seseorang terkena
penyakit ini satu kali.
Varisela ditularkan melalui kontak langsung (cairan vesikel) dan droplet.
Penularan melalui kontak serumah sangat tinggi, temuan di Amerika Serikat
melaporkan 90% serangan sekunder terjadi pada kontak di rumah tangga. Penularan
lainnya adalah pada saat pasien mengalami viremia (adanya virus di dalam
darah), penyakit ini bisa ditularkan melalui plasenta dan transfusi darah.
Infeksi varisela sering terjadi pada saat pergantian musim, di Indonesia
varisela diduga sering terjadi pada saat pergantian musim hujan ke musim panas
atau sebaliknya. Disebutkan bahwa tingkat penularannya lebih tinggi daripada
parotitis (radang kelenjar parotis/gondongan) tetapi lebih rendah bila
dibandingkan dengan penularan campak.
Masa inkubasi varisela sekitar 11-21 hari, dengan rata-rata 13-17 hari.
Perbedaan varisela dengan herpes zoster adalah bahwa lokasi vesikel pada herpes
zoster sesuai dengan lokasi susunan saraf. Terdapat dua stadium perjalanan
penyakit:
Stadium prodromal
Dua minggu setelah infeksi akan timbul demam, malaise, anoreksia, dan nyeri
kepala.
Stadium erupsi
Sat sampai tiga hari kemudian akan muncul ruam atau macula kemerahan,
papula segera berubah menjadi vesikel yang khas berbentuk seperti tetesan air.
Vesikel akan menjadi pustule (cairan jernih berubah menjadi keruh) yang pecah
menjadi krusta dan dalam waktu sekitar 12 jam. Vesikel mulai muncul di muka
atau mukosa yang cepat menyebar ke tubuh dengan anggata gerak menimbulkan
gejala gatal. Komplikasi yang sering timbul adalah pneumonia, ensefalitis, dan
infeksi sekunder pada krusta oleh bakteri.
Pada penderita dengan daya tahan tubuh yang baik akan muncul gejala ringan
dan sembuh sendiri (self limited). Pasien dapat diberi antihistamin atau anti
gatal, antivirus asiklovir atau vidarabin, antibiotik bila ada indikasi infeksi
bakteri dan multivitamin.
Upaya pencegahan yang dapat dilakukan meliputi:
Mengisolasi penderita.
Meningkatkan izin
”kontak” yang serumah dengan penderita.
Memberikan penyuluhan
tentang penyakit.
Imunisasi (saat ini
masih mahal).
9.
Campak
Campak adalah suatu penyakit akut yang menular disebabkan oleh
morbili virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini
ditandai dengan gejala awal demam, batuk, pilek, dan konjungtivis yang kemudian
diikuti dengan bercak kemerahan pada kulit (rash). Campak basanya menyerang
anak-anak dengan derajat ringan sampai sampai sedang. Penyakit ini dapat
meninggalkan gejala sisa kerusakan neurologis akibat eradangan otak
(ensefalitis).
Penyakit campak disebabkan oleh virus campak,dari family Paramyxovirus,
genus Morbilivirus. Virus ini adalah virus RNA yang dikenal hanya mempunyai
satu antigen. Struktur virus ini mirip dengan virus penyebab parotitis epidemis
dan parainfluenza. Setelah timbulya ruam kulit, virus aktif dapat ditemukan
pada secret nasofaring,darah,dan air kencing dalam waktu sekitar 34 jam
pada suhu kamar.
Virus campak dapat bertahan selama beberaa hari pada tmperatur 0⁰C dan selama 15 minggu pada sediaan beku. Diluar tubuh manusia virus ini
mudah mati.pada suhu kamar sekalipun,virus ini akan kehilangan infektivitasnya
sekitar 60% selama 3-5 hari. Virus inimudah hancur oleh sinar ultraviolet.
Di Indonesia campak masih menemati urutan ke-5 dari 10 penyakit utama pada
bayi dan balita (1-4 tahun) berdasrkan laporan SKRT tahun 1985/1986. Kasus luar
biasa masih terus dilaporkan,dilaporkan terjadi kasus luar biasa di pulau
Bangka pada tahun 1971 dengan angka kematian sekitar 12%,kasus luar biasa di
Provinsi Jawa Barat pada tahun 1981
(Case Fatality Rate, CFR/anka kematian=15%), dan kasus luar biasa di Palembang,
Lampung, dan Bengkulu pada tahun 1998. Pada tahun 2003, di Semarang masi
tercartat terdapat 104 kasus campak dengan CFR 0%.
Angka kesakitan campak di Indonesia tercatat 30.0000 kasus per tahun
yang dilaporkan, meskipun pada kenyataan hampir semua anak setelah usia balita
pernah terserang campak. Pada zaman dahulu ada anggapan bahwa setiapanak harus
terkena campak sehingga tidak perlu diobati. Masyarakat berpendapat bahwa
penyakit ini akan sembuh sendiri bila ruam merah pad kulit sudah timbul, yang
berakibat ada usaha-usaha untuk mempercepat timbulnya ruam. Mereka beranggapan
bahwa kalau ruam tidak keluar ke kulit, penyakit ini akan menyerang ke dalam
tubuh dan menimbulkan yang lebih fatal daripada penyakitnya sendiri.
Campak biasanya menyerang anak berusia 5-10 tahun sebelum penggunaan vaksin
campak. Setelah masa imunisasi (mulai tahun 1977), penyakit ini sering
menyerang anak usia remaja dan orang dewasa muda yang tidak mendapat vaksinasi
sewaktu kecil, atau mereka yang diimunisasi pada saat usianya lebih dari 15
bulan. Peneltian di rumah sakit selama tahun 1984-1988 melaporkan bahwa campak
paling banyak terjadi pada usia balita, dengan kelompok tertinggi pada usia 2
tahun (20,3%), diikuti bayi (17,6%), anak usia 1 tahun(15,2%), usia 3 tahun
(12,3%), dan usia 4 tahun (8,2%).
Angka kematian terus menurun dari waktu ke waktu. Menurut laporan
Balitbangkes di Sukabumi pada tahun 1982, CFR campak sebesar 0,65% dan di
banyak provinsi ditemukan CFR antara 0,76-1,4%.
Penularan
Virus campak mudah menuarkan penyakit. Virulensinya sangat tinggiterutama
pada anak yang rentan dengan kontak keluarga, sehingga hamper 90% anak rentan
akan tertular. Campak ditularkan melalui droplet di udara oleh penderita sejak
1 hari sebelum timbulnya gejala klinis sampai 4 hari sesudah munculnya ruam.
Masa inkubasinya anatara 10-12 hari.
Ibu yang pernah menderita campak akan menurunkan kekebalannya kepada jann
yang dikandungnya melalui plasenta, dan kekebalan ini bias bertahan sampai
bayinya berusia 4-6 bulan. Pada usia 9 bulan bayi diharapkan membentuk
antibodinya sendiri secara aktif setelah menerima vaksinasi campak. Dalam waktu
12 hari setelah infeksi campak sampai puncak titer sekitar 21 hari, igM akan
terbentuk dan akan cepat menghilang untuk kemudian digantikan oleh igG. Adanya
karier campak sampai sekarang tidak terbukti.
Cakupan imunisasi campak lebih dari 90% akan menyebabkan kekebalan kelompok
(herd immunity) yang akan menyebabkan penurunan kasus campak di masyarakat.
Gejala dan tanda
Sekitar 10 hari setelah infeksi akan muncul demam yang biasanya tinggi,
diikuti dengan koriza, batuk, dan peradangan pada mata. Gejala penyakit campak
dikategorikan dalam tiga stadium.
1. Stadium masa inkubasi, berlangsung 10-12 hari.
2. Stadium masa prodromal,
yaitu munculnya demam ringan sampai sedang, batuk yang makin berat, koriza,
peradangan mata, dan munculnya enantema atau bercak koplik yang khas pada
campak yaitu bercak putih pada mukosa pipi.
3. Stadium akhir, ditandai
demam tinggi dan timbulnya ruam-ruam kulit kemerahan yang dimuai dari belakang
telinga dan kemudian menyebar ke leher, muka, tubuh, dan anggota gerak.
Dua hari kenmudian biasanya suhu akan menurun dan gejala penyakit mereda.
Ruam kulit akan mengalami hiperpigmentasi (berubah warna menjadi lebih gelap)
dan mungkin mengelupas. Penderita akan tampak sehat bila tidak disertai
komplikasi. Kompikasi yang sering terjadi adala konjungtivis, bronkopneumonia,
radang telinga tengah, dan peradangan otak.
Pengobatan
Pengobatan campak berupa perawatan umum seperti pemberian cairan dan kalori
yang cukup. Obat simtomatik yang perlu diberikan antara lain:
1. Anti demam
2. Antibiotik
3. Vitamin A
4. Antibiotik diberikan bila
ada indikasi,misalnya jika campak
disertai
dengan komplikasi
Pasien tanpa komplikasi dapat berobat jalan di puskesmas atau unit
pelayanan kesehatan lain, sedangkan pasien campak dengan komplikasi memerluka
rawat inap di rumah sakit.
Pencegahan
Imunisasi campak yang diberikan pada bayi berusia 9 bulanmerupakan pencegahan
yang paling efektif. Vaksin campak berasal dari virus hidup yang dilemahkan.
Pemberian vaksin dengan cara intrakutan atau intramuskulardengan dosis 0,5 cc.
Pemberian imunisasi campak satu kali akan memberikan kekebalan selama 14
tahun, sedangkan untuk mengendalikan penyakit diperlukan cakupan imunisai
paling sedikit 80% per wilayah secara merata selama bertahun-tahun.
- Imunodefisiensi
Imunodefisiensi atau imunokompromais adalah fungsi sistem imun yang menurun
atau tidak berfungsi dengan baik. Fungsi masing-masing komponen sistem imun
humoral maupun selular atau keduanya dapat terganggu baik oleh sebab congenital
maupun sebab yang didapat. Keadaan imunodefisiensi dapat terjadi
disebabkan oleh berbagai hal, antara lain akibat infeksi (AIDS, virus mononucleosis,
rubella, dan campak), penggunaan obat (steroid, penyinaran, kemoterapi,
imunosupresi, serum anti-limfosit), neoplasma dan penyakit hematologik
(limfoma/hodkin, leukemia, mieloma, neutropenia, anemia aplastik, anemia sel
sabit), penyakit metabolik (enteropati dengan kehilangan protein, sindrom
nefrotik, diabetes mellitus, malnutrisi), trauma dan tindakan bedah (luka
bakar, spienektomi, anestesi), lupus eritematosus sistemik, dan hepatitis
kronis.
Berbagai mikroorganisme (kuman, virus, parasit, jamur) yang ada di
lingkungan maupun yang sudah ada dalam tubuh penderita, yang dalam keadaan
normal tidak patogenik atau memiliki patogenisitas rendah, dalam keadaan
imunodefisiensi dapat menjadi invasif dan menimbulkan berbagai penyakit. Oleh
karena itu, penderita yang imunodefisiensi mempunyai risiko yang lebih tinggi
terhadap infeksi yang berasal dari tubuh sendiri maupun secara nasokomial
disbanding dengan yang tidak imunodefisiensi.
Secara garis besar imunodefisiensi dibagi dalam dua golongan yaitu imunodefisiensi
congenital dan imunodefisiensi yang didapat (acquired immune deficiencies).
1.
Imunodefisiensi Kongenital
Imunodefisiensi kongenital atau imunodefisiensi primer pada umumnya
disebabkan oleh kelainan respon imun bawaan yang dapat berupa kelainan dari
sistem fagosit dan komplemen atau kelainan dalam deferensiasi fungsi limfosit.
Penyakit granumaltosa
kronis
Penyakit granulomatosa kronis kebanyakan menyerang anak laki-laki dan
terjadi akibat kelainan pada sel-sel darah putih yang menyebabkan terganggunya
kemampuan mereka untuk membunuh bakteri dan jamur tertentu.
Penyebabnya, sel darah putih tidak menghasilkan hidrogen peroksida,
superoksida dan zat kimia lainnya yang membantu melawan infeksi.
Gejala biasanya muncul pada masa kanak-kanak awal, tetapi bisa juga baru
timbul pada usia belasan tahun. Infeksi kronis terjadi pada kulit,
paru-paru, kelenjar getah bening, mulut, hidung dan usus. Di sekitar anus, di
dalam tulang dan otak bisa terjadi abses. Kelenjar getah bening cenderung
membesar dan mengering. Hati dan limpa membesar. Pertumbuhan anak menjadi
lambat.
Pengobatannya dengan memberikan antibiotik bisa membantu mencegah
terjadinya infeksi. Suntikan gamma interferon setiap minggu bisa menurunkan
kejadian infeksi. Pada beberapa kasus, pencangkokan sumsum tulang berhasi
menyembuhkan penyakit ini.
X-linked
agammaglobulinemia
Agammaglobulinemia X-linked (agammaglobulinemia Bruton) hanya menyerang
anak laki-laki dan merupakan akibat dari penurunan jumlah atau tidak adanya
limfosit B serta sangat rendahnya kadar antibodi karena terdapat kelainan pada
kromosom X.
Bayi akan menderita infeksi paru-paru, sinus dan tulang, biasanya karena
bakteri (misalnya Hemophilus dan Streptococcus) dan bisa terjadi infeksi virus
yang tidak biasa di otak. Tetapi infeksi biasanya baru terjadi setelah usia 6
bulan karena sebelumnya bayi memiliki antibodi perlindungan di dalam darahnya
yang berasal dari ibunya.
Jika tidak mendapatkan vaksinasi polio, anak-anak bisa menderita polio.
Mereka juga bisa menderita artritis. Suntikan atau infus immunoglobulin
diberikan selama hidup penderita agar penderita memiliki antibodi sehingga bisa
membantu mencegah infeksi. Jika terjadi infeksi bakteri diberikan antibiotik.
Anak laki-laki penderita agammaglobulinemia X-linked banyak yang menderita
infeksi sinus dan paru-paru menahun dan cenderung menderita kanker.
Kekurangan antibody
selektif, misalnya kekurangan IgA
Pada penyakit ini, kadar antibodi total adalah normal, tetapi terdapat
kekurangan antibodi jenis tertentu. Yang paling sering terjadi adalah
kekurangan IgA. Kadang kekurangan IgA sifatnya diturunkan, tetapi penyakit ini
lebih sering terjadi tanpa penyebab yang jelas. Penyakit ini juga bisa
timbul akibat pemakaian fenitoin (obat anti kejang).
Sebagian besar penderita kekurangan IgA tidak mengalami gangguan atau hanya
mengalami gangguan ringan, tetapi penderita lainnya bisa mengalami infeksi
pernafasan menahun dan alergi. Jika diberikan transfusi darah, plasma
atau immunoglobulin yang mengandung IgA, beberapa penderita menghasilkan
antibodi anti-IgA, yang bisa menyebabkan reaksi alergi yang hebat ketika mereka
menerima plasma atau immunoglobulin berikutnya. Biasanya tidak ada pengobatan
untuk kekurangan IgA. Antibiotik diberikan pada mereka yang mengalami
infeksi berulang.
Common variable
immunodeficiency
Immunodefisiensi yang berubah-ubah terjadi pada pria dan wanita pada usia
berapapun, tetapi biasanya baru muncul pada usia 10-20 tahun. Penyakit ini
terjadi akibat sangat rendahnya kadar antibodi meskipun jumlah limfosit-B nya
normal. Pada beberapa penderita limfosit T berfungsi secara normal, sedangkan
pada penderita lainnya tidak.
Sering terjadi penyakit autoimun, seperti penyakit Addison, tiroiditis dan
arhtritis reumathoid. Biasanya terjadi diare dan makanan pada saluran
pencernaan tidak diserap dengan baik. Suntikan atau infus immunoglobulin
diberikan selama hidup penderita. Jika terjadi infeksi diberikan
antibiotik.
DiGeorge syndrome
DiGeorge syndrome terjadi akibat adanya kelainan pada perkembangan janin.
Keadaan ini tidak diturunkan dan bisa menyerang anak laki-laki maupun anak
perempuan. Anak-anak tidak memiliki kelenjar thymus, yang merupakan kelenjar
yang penting untuk perkembangan limfosit T yang normal. Tanpa limfosit T,
penderita tidak dapat melawan infeksi dengan baik. Setelah lahir, akan terjadi
infeksi berulang. Beratnya gangguan kekebalan sangat bervariasi. Kadang
kelainannya bersifat parsial dan fungsi limfosit T akan membaik dengan
sendirinya.
Anak-anak memiliki kelainan jantung dan gambaran wajah yang tidak biasa
(telinganya lebih rendah, tulang rahangnya kecil dan menonjol serta jarak
antara kedua matanya lebih lebar). Penderita juga tidak memiliki kelenjar
paratiroid, sehingga kadar kalium darahnya rendah dan segera setelah lahir
seringkali mengalami kejang.
Jika keadaannya sangat berat, dilakukan pencangkokan sumsum tulang. Bisa
juga dilakukan pencangkokan kelenjar thymus dari janin atau bayi baru lahir
(janin yang mengalami keguguran). Kadang kelainan jantungnya lebih berat
daripada kelainan kekebalan sehingga perlu dilakukan pembedahan jantung untuk mencegah
gagal jantung yang berat dan kematian, juga dilakukan tindakan untuk mengatasi
rendahnya kadar kalsium dalam darah.
Kandidiasis
mukokutaneus kronis
Kandidiasi mukokutaneus kronis terjadi akibat buruknya fungsi sel darah
putih, yang menyebabkan terjadinya infeksi jamur Candida yang menetap pada bayi
atau dewasa muda. Jamur ini bisa menyebabkan infeksi mulut (thrush), infeksi
pada kulit kepala, kulit, dan kuku.
Penyakit ini agak lebih sering ditemukan pada anak perempuan dan beratnya
bervariasi. Beberapa penderita mengalami hepatitis dan penyakit paru-paru
menahun. Penderita lainnya memiliki kelainan endokrin (seperti
hipoparatiroidisme). Infeksi internal oleh Candida jarang terjadi.
Biasanya infeksi bisa diobati dengan obat anti-jamur nistatin atau
klotrimazol. Infeksi yang lebih berat memerlukan obat anti-jamur yang lebih
kuat (misalnya ketokonazol per-oral atau amfoterisin B intravena). Kadang
dilakukan pencangkokan sumsum tulang.
Wiskoott-aladrich
syndrome
Sindrom Wiskott-Aldrich hanya menyerang anak laki-laki dan menyebabkan
eksim, penurunan jumlah trombosit serta kekurangan limfosit T dan limfosit B
yang menyebabkan terjadinya infeksi berulang. Akibat rendahnya jumlah
trombosit, maka gejala pertamanya bisa berupa kelainan perdarahan (misalnya
diare berdarah). Kekurangan limfosit T dan limfosit B menyebabkan anak
rentan terhadap infeksi bakteri, virus dan jamur. Sering terjadi infeksi
saluran pernafasan.
Anak yang bertahan sampai usia 10 tahun, kemungkinan akan menderita kanker
(misalnya limfoma dan leukemia). Pengangkatan limpa seringkali bisa mengatasi
masalah perdarahan, karena penderita memiliki jumlah trombosit yang sedikit dan
trombosit dihancurkan di dalam limpa. Antibiotik dan infus imunoglobulin
bisa membantu penderita, tetapi pengobatan terbaik adalah dengan pencangkokan
sumsum tulang.
Ataksia talangiektasia
Ataksia-telangiektasia adalah suatu penyakit keturunan yang menyerang
sistem kekebalan dan sistem saraf. Kelainan pada serebelum (bagian otak
yang mengendalikan koordinasi) menyebabkan pergerakan yang tidak terkoordinasi
(ataksia). Kelainan pergerakan biasanya timbul ketika anak sudah mulai
berjalan, tetapi bisa juga baru muncul pada usia 4 tahun. Anak tidak dapat
berbicara dengan jelas, otot-ototnya lemah dan kadang terjadi keterbelakangan
mental.
Telangiektasi adalah suatu keadaan dimana terjadi pelebaran kapiler
(pembuluh darah yang sangat kecil) di kulit dan mata. Telangiektasi terjadi
pada usia 1-6 tahun, biasanya paling jelas terlihat di mata, telinga, bagian
pinggir hidung dan lengan. Sering terjadi pneumonia, infeksi bronkus dan
infeksi sinus yang bisa menyebakan kelainan paru-paru menahun. Kelainan
pada sistem endokrin bisa menyebabkan ukuran buah zakar yang kecil, kemandulan
dan diabetes.
Banyak anak-anak yang menderita kanker, terutama leukemia, kanker otak dan
kanker lambung. Antibiotik dan suntikan atau infus immunoglobulin bisa
membantu mencegah infeksi tetapi tidak dapat mengatasi kelaianan saraf.
Ataksia-telangiektasia biasanya berkembang menjadi kelemahan otot yang semakin
memburuk, kelumpuhan, demensia, dan kematian.
2.
Imunodefisiensi dapatan (Acquired immune deficiency)
Imunodefisiensi dapatan ini disebabkan oleh berbagai factor antara lain
infeksi virus yang dapat merusak sel limfosit, malnutrisi, penggunaan obat-obat
sitotoksik dan kortikosteroid, serta akibat penyakit kanker seperti penyakit
Hodgkin, leukemia, mieloma, limfositik kronik, dan lain-lain.
Contoh imunodefisiensi dapatan:
Penyebab
AIDS disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Diketahui terdapat dua jenis virus HIV, yaitu HIV 1 dan HIV 2. Kelainan sistem
imun penderita AIDS ditandai dengan penurunan jumlah dan fungsi sel limfosit
T-penolong (Th), peningkatan jumlah sel limfoid yang prematur dan peningkatan
aktifitas sel T-penekan (Ts). Selain itu juga dijumpai adanya gangguan fagosit,
dimana sel monosit dan makrofag tidak bisa berfungsi dengan baik. Seseorang yang
terjangkit HIV dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama 8
tahun atau lebih selama infeksi sebagian besar terbatas pada makrofag. Ketika
virus mulai menyerang sel T helper, kondisi akan memburuk biasanya selama 2
sampai 5 tahun jika tidak diobati. Individu didiagnosis mengidap AIDS bila
jumlah sel T menurun kurang dari 200 sel/μL, atau ketika terjadi infeksi
oportunitis, kanker, atau demensia AIDS.
Gambaran klinis
-
Gejala mirip flu, termasuk demam ringan, nyeri badan, menggigil, dapat muncul
beberapa minggu sampai beberapa bulan setelah infeksi. Gejala menghilang
setelah respons imun awal menurunkan jumlah partikel virus, walaupun virus
tetap dapat bertahan pada sel-sel lain yang terinfeksi.
-
Selama periode laten, orang yang terinfeksi HIV mungkin tidak memperlihatkan
gejala, atau pada sebagian kasus mengalami limfadenofati (pembengkakan kelenjar
getah bening) persisten.
-
Antara 2-10 tahun setelah infeksi HIV, sebagian besar pasien mulai
mengalami berbagai infeksi oportunistik, bila tidak ditangani.
Penyakit-penyakit ini mengisyaratkan munculnya AIDS dan berupa infeksi ragi
pada vagina atau mulut, dan berbagai infeksi virus misalnya varisela zoster
(cacar air dan cacar ular), sitomegalovirus, atau herpes simpleks
persisten. Wanita dapat menderita ragi kronik atau penyakit radang
panggul.
-
Setelah terbentuk AIDS, sering terjadi infeksi saluran napas, oleh organisme
oportunistik Pneumocystis carinii. Dapat timbul tuberkulosis yang resisten
bermcam-macam obat karena pasien AIDS tidak mampu melakukan respons imun yang
efektif untuk melawan bakteri, walaupun dibantu antibiotik. Pasien AIDS yang
mengalami tuberkulosis biasanya mengalami perjalanan penyakit yang cepat
memburuk yang menyebabkan kematian dalam beberapa bulan. Penyakit biasanya
cepat menyebar ke luar paru termasuk otak dan tulang.
-
Gejala pada sususnan saraf pusat adalah sakit kepala, defek motorik, kejang,
perubahan kepribadian, dan demensia. Pasien dapat menjadi buta dan akhirnya
koma. Banyak dari gejala tersebut timbulkarena infeksi bakteri dan virus
oportunistik pada SSP, yang menyebabkan peradagan otak. HIV juga dapat secara
langsung merusak sel-sel otak.
-
Diare dan berkurangnya lemak tubuh sering terjadi pada pasien AIDS. Diare
terjadi akibat infeksi pada protozoa. Infeksi jamur (thrush) di mulut dan
esophagus menyebabkan nyeri hebat sewaktu menelan dan mengunyah, dan ikut
berperan menyebabkan berkurangnya lemak dan gangguan pertumbuhan.
-
Berbagai kanker muncul pda pasien AIDS akibat tidak adanya respons imun selular
terhadap sel-sel neoplastik. Kanker yang sebenarnya jarang dijumpai, sarcoma
kaposi sering terjadi pada pasien AIDS. Sarkoma kaposi adalah kanker sistem
vaskular yang ditandai oleh lesi kulit berwarna merah. Sebagian besar individu
pengidap sarkoma kaposi terinfeksi melalui hubungan homoseks. Hasil riset
terkini menunjukan bahwa ko-infeksi disertai virus herpes yang unik, human
herpesvirus 8, memicu munculnya sarkoma kaposi. Human herpesvirus 8 jarang
terjadi kecuali dikalangan homoseks Amerika Serikat.
Menurut WHO ada beberapa gejala dan tanda mayor, minor, dan tanda lainnya
antara lain:
-
Tanda mayor
Kehilangan berat badan (BB)> 10%
Diarekronik >1 bulan
Demam >1 bulan
-
Tanda minor
Batuk menetap >1 bulan
Dermatitis pruritis (gatal)
Herpes zoster berulang
Kandidiasis orofaring
Herpes simpleks yang meluas dan berat
Limfadenopati yang meluas
-
Tanda lainnya
Sarkoma Kaposi yang meluas
Meningitis kriptokokoal
Penularan HIV
HIV ditularkan dari orang ke orang lain melalui pertukaran cairan tubuh
(darah, semen, cairan vagina, air susu bagi ibu yang positif terjangkit). Urin
dan isi saluran cerna tidak dianggap sebagai sumber penularan kecuali apabila
jelas tampak mengandung darah. Air mata, air liur dan keringat mungkin
mengandung virus, tetapi jumlahnya diperkirakan terlalu rendah untuk
menimbulkan infeksi.
Selain melalui cairan tubuh, HIV ditularkan melalui :
1. Ibu hamil (ASI)
2. Jarum suntik
3. Transfusi darah
4. Hubungan seksual
Pengobatan pada
penderita HIV/AIDS
1. Pengobatan
suportif
2. Diet sehat dan gaya
hidup bebas stress, pendidikan untuk menghindari konsumsi alcohol, merokok,
obat-obatan terlarang.
3. Terapi
retrovirus sangat aktif (highly active retroviral therapy, HAART) meliputi
pemberian obat antivirus (azidothymidine/AZT) untuk anti kanker,
dideoxynosine(DDI) pengurang toksik).
Pencegahan penyakit
AIDS meliputi:
1.
Menghindari hubungan seksual dengan penderita AIDS atau tersangka penderita
AIDS.
2.
Mencegah hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan orang
yang mempunyai banyak pasangan.
3.
Menghindari hubungan seksual dengan pecandu narkotika obat suntik.
4.
Melarang orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok beresiko tinggi untuk
melakukan donor darah.
5.
Memberikan transfusi darah hanya untuk pasien yang benar-benar memerlukan.
6.
Memastikan sterilitas alat suntik.
Hematopoiesis
merupakan proses
pembentukan komponen sel darah, dimana terjadi proliferasi, maturasi dan
diferensiasi sel yang terjadi secara serentak.
Proliferasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipatgandaan jumlah sel, dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan sejumlah sel darah. Maturasi merupakan proses pematangan sel darah, sedangkan diferensiasi menyebabkan beberapa sel darah yang terbentuk memiliki sifat khusus yang berbeda-beda.
Proses yang terjadi bisa lebih jelas dilihat melalui gambar di bawah ini :
Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :
1. Mesoblastik
Dari embrio umur 2 – 10 minggu. Terjadi di dalam yolk sac. Yang dihasilkan adalah HbG1, HbG2, dan Hb Portland.
2. Hepatik
Dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati Sedangkan pada limpa terjadi pada umur 12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari hati. Disini menghasilkan Hb.
3. Mieloid
Dimulai pada usia kehamilan 20 minggu terjadi di dalam sumsum tulang, kelenjar limfonodi, dan timus. Di sumsum tulang, hematopoiesis berlangsung seumur hidup terutama menghasilkan HbA, granulosit, dan trombosit. Pada kelenjar limfonodi terutama sel-sel limfosit, sedangkan pada timus yaitu limfosit, terutama limfosit T.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah di antaranya adalah asam amino, vitamin, mineral, hormone, ketersediaan oksigen, transfusi darah, dan faktor- faktor perangsang hematopoietik.
Proliferasi sel menyebabkan peningkatan atau pelipatgandaan jumlah sel, dari satu sel hematopoietik pluripotent menghasilkan sejumlah sel darah. Maturasi merupakan proses pematangan sel darah, sedangkan diferensiasi menyebabkan beberapa sel darah yang terbentuk memiliki sifat khusus yang berbeda-beda.
Proses yang terjadi bisa lebih jelas dilihat melalui gambar di bawah ini :
Hematopoiesis pada manusia terdiri atas beberapa periode :
1. Mesoblastik
Dari embrio umur 2 – 10 minggu. Terjadi di dalam yolk sac. Yang dihasilkan adalah HbG1, HbG2, dan Hb Portland.
2. Hepatik
Dimulai sejak embrio umur 6 minggu terjadi di hati Sedangkan pada limpa terjadi pada umur 12 minggu dengan produksi yang lebih sedikit dari hati. Disini menghasilkan Hb.
3. Mieloid
Dimulai pada usia kehamilan 20 minggu terjadi di dalam sumsum tulang, kelenjar limfonodi, dan timus. Di sumsum tulang, hematopoiesis berlangsung seumur hidup terutama menghasilkan HbA, granulosit, dan trombosit. Pada kelenjar limfonodi terutama sel-sel limfosit, sedangkan pada timus yaitu limfosit, terutama limfosit T.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pembentukan sel darah di antaranya adalah asam amino, vitamin, mineral, hormone, ketersediaan oksigen, transfusi darah, dan faktor- faktor perangsang hematopoietik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar