UNSUR INTRINSIK & EKSTRINSIK DAN SINOPSIS FILM DI
BAWAH LINDUNGAN KA’BAH
UNSUR
INTRINSIK
Judul
DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH
Tema
Tema yang diangkat dalam film “Di
Bawah Lindungan Ka’bah” karya HAMKA ini, mengangkat tema penderitaan dua orang
manusia yang kehilangan cintanya. Namun, dapat juga kita lihat kesetiaan akan
cinta dalam film ini.
Latar cerita dibagi dalam tiga
bagian:
Latar Waktu
Latar waktu yang ada di dalam film
ini adalah sekitar tahun 1927. Pagi, siang, sore, malam
a. Tahun
1927
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
1) Mekah Pada Tahun 1927 (judul bagian 1). (HAMKA, 2010:5).
2) Konon kabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum itu ataupun sesudahnya. (HAMKA, 2010:5).
b. Bulan Ramadan, Bulan Syawal
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
Baharu dua bulan saja, semenjak awal Ramadan sampai syawal... (HAMKA, 2010:7).
c. Bulan Zulhijjah
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
1) Pada hari kedelapan bulan Zulhijjah, datang perintah dari syekh kami... (HAMKA, 2010:59).
2) Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik dari biasa. (HAMKA, 2010:59).
d. Pagi
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
1) Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu... (HAMKA, 2010:17).
2) Besok paginya, saya tidak menjunjung nyiru tempat kue lagi... (HAMKA, 2010:17).
3) Tiap-tiap pagi saya selalu di hadapan rumah itu... (HAMKA, 2010:15).
e. Hari Minggu
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti kutipan sebagai berikut.
Hari Minggu kami diizinkan pergi ke tepi laut...(HAMKA, 2010:18).
f. Malam
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
1) Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya... (HAMKA, 2010:9).
2) Di waktu malam, ketika akan tidur, kerap kali Ibu menceritakan kebaikan Ayah... (HAMKA, 2010:12).
g. Sore
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut.
...Kadang-kadang di waktu sore kami duduk di beranda muka... (HAMKA, 2010:18).
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
1) Mekah Pada Tahun 1927 (judul bagian 1). (HAMKA, 2010:5).
2) Konon kabarnya, belumlah pernah orang naik haji seramai tahun 1927 itu, baik sebelum itu ataupun sesudahnya. (HAMKA, 2010:5).
b. Bulan Ramadan, Bulan Syawal
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
Baharu dua bulan saja, semenjak awal Ramadan sampai syawal... (HAMKA, 2010:7).
c. Bulan Zulhijjah
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
1) Pada hari kedelapan bulan Zulhijjah, datang perintah dari syekh kami... (HAMKA, 2010:59).
2) Pada malam 9 Zulhijjah panasnya naik dari biasa. (HAMKA, 2010:59).
d. Pagi
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
1) Pada suatu pagi saya datang ke muka ibu... (HAMKA, 2010:17).
2) Besok paginya, saya tidak menjunjung nyiru tempat kue lagi... (HAMKA, 2010:17).
3) Tiap-tiap pagi saya selalu di hadapan rumah itu... (HAMKA, 2010:15).
e. Hari Minggu
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti kutipan sebagai berikut.
Hari Minggu kami diizinkan pergi ke tepi laut...(HAMKA, 2010:18).
f. Malam
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan berikut.
1) Pada suatu malam, sedang ia duduk seorang dirinya... (HAMKA, 2010:9).
2) Di waktu malam, ketika akan tidur, kerap kali Ibu menceritakan kebaikan Ayah... (HAMKA, 2010:12).
g. Sore
Hal tersebut dapat dilihat dari kutipan sebagai berikut.
...Kadang-kadang di waktu sore kami duduk di beranda muka... (HAMKA, 2010:18).
Latar
Suasana
Dalam film “Di Bawah Lindungan
Ka’bah” karya HAMKA ini, lebih banyak menggambarkan suasana duka. Yaitu,
kedukaan Ibu Hamid yang memikirkan nasib anaknya, Hamid di kemudian hari.
Kesedihan ketika Hamid tau bahwa ia dan Zainab tidak akan bisa bermain-main
lagi setelah tamat sekolah dan begitu sebaliknya. Kedukaan ketika Haji Ja’far
wafat dan disusul oleh ibunda Hamid. Juga kedukaan dan kesedihan ketika Hamid
tau bahwa Zainab akan dinikahkan dengan kemenakkan Haji Ja’far dan penderitaan
Zainab yang selalu memikirkan Hamid yang telah pergi bertahun-tahun tanpa kabar
berita.
Latar suasana kegembiraan juga
digambarkan ketika Ibu hamid mendengar bahwa Hamid akan di sekolahkan oleh haji
Ja’far.
Selain itu, ada juga suasana Haru,
takjub, kehilangan, dan keputus asaan.
Latar tempat
Latar tempat pada film ini lebih
banyak mengambil latar di tanah suci, yaitu Mekkah, padang Arafah, madinah,
Mina, Jedah.
Pengarang juga mengambil latar
tempat di tanah Air seperti, padang, padang panjang, jambi, pesisir Arau dan
medan
a. Di Mekah
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
1) ...Dua hari kemudian saya pun sampai di mekkah, Tanah Suci kaum muslim sedunia. (HAMKA, 2010:5)
2)...Akhirnya sampailah saya ke tanah suci ini. (HAMKA, 2010:42).
3) ...pada hari keduabelas kami berangkat ke Mekkah...(HAMKA, 2010:60)
b. Di Kota Padang
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
...Ayah pindah ke kota padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu...(HAMKA, 2010:12).
c. Di Rumah
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
...saya hanya duduk dalam rumah didekat ibu...(HAMKA, 2010:12).
d. Di Halaman Rumah
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
1) ...setelah saya akan meninggalkan halaman rumah itu...(HAMKA, 2010:15)
2) ...saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari bermain galah dalam pekarangan rumahnya...(HAMKA, 2010:18).
e. Di Puncak Gunung Padang
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
Waktu orang berlimau, sehari orang akan berpuasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang...(HAMKA, 2010:19).
f. Di Padang Panjang
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
1) Saya tidak beberapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang...(HAMKA, 2010:21).
2) Setelah puasa habis, saya kembali ke Padang Panjang. (HAMKA, 2010:24).
g. Di Pesisir Arau
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
...di waktu saya sedang berjalan-jalan seorang diri di Pesisir Arau yang indah itu... (HAMKA, 2010:32).
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
1) ...Dua hari kemudian saya pun sampai di mekkah, Tanah Suci kaum muslim sedunia. (HAMKA, 2010:5)
2)...Akhirnya sampailah saya ke tanah suci ini. (HAMKA, 2010:42).
3) ...pada hari keduabelas kami berangkat ke Mekkah...(HAMKA, 2010:60)
b. Di Kota Padang
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
...Ayah pindah ke kota padang, tinggal dalam rumah kecil yang kami diami itu...(HAMKA, 2010:12).
c. Di Rumah
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
...saya hanya duduk dalam rumah didekat ibu...(HAMKA, 2010:12).
d. Di Halaman Rumah
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
1) ...setelah saya akan meninggalkan halaman rumah itu...(HAMKA, 2010:15)
2) ...saya dan Zainab bersama teman-teman kami yang lain berlari-lari bermain galah dalam pekarangan rumahnya...(HAMKA, 2010:18).
e. Di Puncak Gunung Padang
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
Waktu orang berlimau, sehari orang akan berpuasa, kami dibawa ke atas puncak Gunung Padang...(HAMKA, 2010:19).
f. Di Padang Panjang
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
1) Saya tidak beberapa bulan setelah tamat sekolah, berangkat ke Padang Panjang...(HAMKA, 2010:21).
2) Setelah puasa habis, saya kembali ke Padang Panjang. (HAMKA, 2010:24).
g. Di Pesisir Arau
Hal tersebut dapat dilihat dari bukti di bawah ini.
...di waktu saya sedang berjalan-jalan seorang diri di Pesisir Arau yang indah itu... (HAMKA, 2010:32).
h. Pekuburan Ma'alaHal tersebut dapat dilihat dari
kutipan berikut. Sehari sebelum kami meninggalkan Mekkah, pergilah kami
berziarah ke kuburan Ma'ala, tempat Hamid di kuburkan. (HAMKA, 2010:65).
Alur cerita
Alur cerita yang digunakan oleh
penulis dalam film ini adalah alur campuran yaitu maju dan mundur. Kerema dalam
novel ini menceritakan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa yang sudah
terjadi dan berlanjut kembali ke masa depan.
Sudut
pandang
Dalam film ini menggunakan sudut
pandang orang ketiga .
Tokoh
Hamid, Ibu Hamid,
Zainab, Haji Ja’far, mak Aisyah, Rosna, Saleh, Inu Zainab
Penokohan
Ada Beberapa tokoh penting dalam
novel berjudul “Di Bawah Lindungan Ka’bah ini, yaitu:
1. Hamid
Tokoh yang mendominasi cerita ini. Berbudi pekerti
luhur, sopan, pintar, rendah hati dan sederhan.(metode dramatik, penggambarang
perbuatan)
2. Ibu Hamid
Wanita yang gigih berjuang membesarkan anaknya walau
hanya sendirian. Baik hati dan penuh kasih saying. Sangat menyayangi Hamid
hingga akhir hayatnya. .(metode dramatik, penggambarang perbuatan)
3. Zainab
Anak perempuan Haji Ja’far dan Mak Asiah. Berteman
dnegan Hamid sejak kecil. Selalu bersama-sama hingga tamat sekolah. Zainab baik
hatinya, sopan, ramah dan sangat perasa. .(metode dramatik, penggambarang
perbuatan)
4. Haji Ja’far
Saudagar kaya baik hati yang membantu kehidupan Hamid
dan ibunya. Haji Ja’far sangat dermawan dan baik hati. .(metode dramatik,
penggambarang perbuatan)
5. Mak Asiah
Mak Asiah adalah wanita penuh kasih sayang. Baik
hatinya kepada siapa saja. .(metode dramatik, penggambarang perbuatan)
6. Rosna
Istri Saleh dan juga teman baik Zainab, baik hati,
sopan, penyabar. .(metode dramatik, penggambarang perbuatan)
7. Saleh
Teman semasih sekolah hamid. Suami Rosnah. Baik hati,
penolong, sopan. .(metode dramatik, penggambarang perbuatan)
8. Ibu Zinab
Galak
tapi baik hati, keras . .(metode dramatik, penggambarang perbuatan)
Gaya cerita
Gaya cerita yang digunakan dalam
novel ini adalah gaya cerita zaman dulu. Yaitu belum berpedoman pada EYD.
Banyak kata-kata kiasan atau perumpamaan yang digunakan dan bahasanya sangat
sopan.
a. Gaya
bahasa asosiasi
1) ...Merapi dengan kepundannya yang laksana disepuhi emas...
2) ...setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi...
3) Surat itu saya pandang laksana sehelai azimat untuk penawar hatiku...
4) Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci.
5) Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh, laksana seorang bersalah besar yang dibuang ke pulau, tiada manusia menengok, tidak ada kawan yang melihat, ditimpa haus dan dahaga.
6) Bukit-bukit yang gundul itu tegak dengan teguhnya laksana pengawal yang menyaksikan dan menjagai orang haji yang berangsur pulang ke kampungnya masing-masing.
1) ...Merapi dengan kepundannya yang laksana disepuhi emas...
2) ...setelah melayap laksana satu bayangan, ia pun hilang dan tidak akan kembali lagi...
3) Surat itu saya pandang laksana sehelai azimat untuk penawar hatiku...
4) Ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci.
5) Saya hidup laksana seorang buangan yang tersisih pada suatu padang belantara yang jauh, laksana seorang bersalah besar yang dibuang ke pulau, tiada manusia menengok, tidak ada kawan yang melihat, ditimpa haus dan dahaga.
6) Bukit-bukit yang gundul itu tegak dengan teguhnya laksana pengawal yang menyaksikan dan menjagai orang haji yang berangsur pulang ke kampungnya masing-masing.
b. Gaya
bahasa hiperbolisme
1) ...terlompatlah air mata ibuku karena suka cita... (HAMKA, 2010:17).
2) ...dan kadang-kadang memberi melarat kepada jiwamu. (HAMKA, 2010:28).
3) ...saya karam dalam permenungan... (HAMKA, 2010:32).
4) ...air matanya kelihatan menggelenggang...(HAMKA, 2010:37).
5) ...saya patahkan hati anaknya yang hanya satu...(HAMKA, 2010:40).
6) ...saya telah karam di dalam khayal... (HAMKA, 2010:48).
7) ...dia telah meninggalkan saya dengan gelombang angan-angan... (HAMKA, 2010:50).
8) Dan kapalku memecahkan ombak dan gelombang menuju Tanah air yang tercinta. (HAMKA, 2010:66).
1) ...terlompatlah air mata ibuku karena suka cita... (HAMKA, 2010:17).
2) ...dan kadang-kadang memberi melarat kepada jiwamu. (HAMKA, 2010:28).
3) ...saya karam dalam permenungan... (HAMKA, 2010:32).
4) ...air matanya kelihatan menggelenggang...(HAMKA, 2010:37).
5) ...saya patahkan hati anaknya yang hanya satu...(HAMKA, 2010:40).
6) ...saya telah karam di dalam khayal... (HAMKA, 2010:48).
7) ...dia telah meninggalkan saya dengan gelombang angan-angan... (HAMKA, 2010:50).
8) Dan kapalku memecahkan ombak dan gelombang menuju Tanah air yang tercinta. (HAMKA, 2010:66).
c. Gaya
bahasa antithese
1) ...kita akan bertemu dengan yang tinggi dan yang rendah, kita akan bertemu dengan kekayaan dan kemiskinan, kesukaan dan kedukaan, tertawa dan ratap tangis. (HAMKA, 2010:6).
2) ...di antara kaya dan miskin, mulia dan papa... (HAMKA,2010:27).
3) ...tidak memperbeda-bedakan di antara raja-raja dengan orang minta-minta, tidak menyisihkan orang kaya denganorang miskin, orang hina dengan orang mulia... (HAMKA, 2010:28).
1) ...kita akan bertemu dengan yang tinggi dan yang rendah, kita akan bertemu dengan kekayaan dan kemiskinan, kesukaan dan kedukaan, tertawa dan ratap tangis. (HAMKA, 2010:6).
2) ...di antara kaya dan miskin, mulia dan papa... (HAMKA,2010:27).
3) ...tidak memperbeda-bedakan di antara raja-raja dengan orang minta-minta, tidak menyisihkan orang kaya denganorang miskin, orang hina dengan orang mulia... (HAMKA, 2010:28).
d. Gaya
bahasa personifikasi
1) ...tiba-tiba datang ombak yang agak besar, dihapuskannya unggunan yang kami dirikan itu... (HAMKA, 2010:18).
2) ...dicelah-celah ombak yang memecah ke atas pasir... (HAMKA, 2010:32).
3) ...memperhatikan pergulatan ombak dan gelombang... (HAMKA, 2010:48).
e. Gaya bahasa repetisi
1) Masa itu sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat... (HAMKA, 2010:12).
2) ...Engkau tentu memikirkan juga, bahwa emas tak setara dengan loyang, sutra tak sebangsa dengan benang. (HAMKA, 2010:27).
1) ...tiba-tiba datang ombak yang agak besar, dihapuskannya unggunan yang kami dirikan itu... (HAMKA, 2010:18).
2) ...dicelah-celah ombak yang memecah ke atas pasir... (HAMKA, 2010:32).
3) ...memperhatikan pergulatan ombak dan gelombang... (HAMKA, 2010:48).
e. Gaya bahasa repetisi
1) Masa itu sedang rimbun, bunga sedang kembang dan buah sedang lebat... (HAMKA, 2010:12).
2) ...Engkau tentu memikirkan juga, bahwa emas tak setara dengan loyang, sutra tak sebangsa dengan benang. (HAMKA, 2010:27).
Amanat
Dalam ini film ingin menyampaikan bahwa segala
masalah dapat diatasi dengan berserah diri atau kembali pada-Nya. Karena di
bawah lindungannya, masalah apapun dapat diatasi dengan mudah.
Penulis juga ingin menyampaikan
bahwa cinta yang tulus itu adalah sesuatu yang abadi dan suci. Perasaan cinta
adalah anugerah dari ALLAH yang sangat adil, karena tidak membeda-bedakan
keadaan manusia.
UNSUR
EKSTERINSIK
A) NILAI PENDIDIKAN
“Sekolah-sekolah Agama yang di situ mudah sekali
sayaMasuki, karena lebih dahulu saya mempelajari ilmu umum, saya hanya tinggal
memperdalam pengertian dalam perkara agama saja, sehingga akhirnya salah
seorang guru menyarankan saya mempelajari agama di luar sekolah , sebab
kepandaian saya dalam ilmu umum”.
B) NILAI AGAMA
“ Ibu pun menunjukkan kepadaku beberapa do’a dan
bacaan, yang menjadi wirid dari almarhum Ayah semasa mendiang hidup,
mengharapkan pengharapan yang besar-besar kepada Tuhan serwa sekalian alam
memohon belas kasihannya ”.
C) NILAI MORAL
“ …maka pada dirinya saya dapati beberapa sifat yang
tinggi dan terpuji, yang agaknya tidak terdapat pada pemuda-pamuda yang lain
baik dari kalangan kaya dan bangsawan sekalipun. Sampai pada saat yang paling
akhir daripada kehidupan ayahku, belum pernah ia menunjukkan Perangai yang
tercela. Wahai Ros saya tertarik benar kepadanya”
D) NILAI SOSIAL
...kemiskinan telah menjadikan ibu putus harapan
memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, karena tali tempat bergantung sudah
putus dan tanah tempat berpijak sudah terban...
SINOPSIS
FILM
SINOPSIS
DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH
Hamid adalah seorang yatim dan dia
tinggal bersama ibunya di kota Padang, tepatnya di sebuah rumah yang mungkin
lebih layak untuk disebut sebagai gubug. Beberapa bulan kemudian, rumah besar
di sebelah gubug Hamid, ditempati oleh Haji Ja’far yaitu seorang saudagar
bersama istri dan anak perempuannya.
Karena iba dengan keadaan Hamid dan
ibunya, istri saudagar itu yang biasa dipanggil Mak Asiah, membantu hamid. Haji
Ja’far menyekolahkan Hamid bersama-sama dengan putinya, Zainab yang akhirnya
dianggap adik oleh hamid.
Setelah tamat sekolah, Hamid
menyadari bahwa dia mencintai Zainab, begitu pula sebaliknya. Tapi, keduanya
saling menyimpan rasa itu. Karena Hamid tau, walaupun ia mengatakannya pasti
akan sia-sia. Dia tidak sederajat dengan Zainab. Begitu pula Zainab. Dia
menyadari akan kedudukan keluarganya dalam masyarakat, karena itulah dia tidak
mengatakan perasaannya pada Hamid.
Sampai suatu hari, Haji Ja’far
meninggal dunia. Hamid dan Ibunya tidak lagi sering ke rumah almarhum Haji
Ja’far. Di tambah lagi dengan keadaan Ibunya yang sudah sakit-sakitan dan tak
lama, Ibunya pun menyusul menuju alam barzah.
Hamid begitu terpukul dengan semua
cobaan ini. Kini dia sebatang kara. Apalagi ketika Mak Asiah meminta bantuannya
untuk meluluhkan hati Zainab agar mau menikah dengan kemenakkan ayahnya. Hamid
yang putus asa memutuskan untuk meninggalkan kota Padang dan pergi
sejauh-jauhnya dari kota itu, maka sampailah dia di tanah suci ini.
Di tanah suci dia bisa melupakan
Zainab dan semua penderitaannya, yaitu dengan berserah diri kepada ALLAH. Tapi,
tidak jarang kenangan-kenangannya bersama Zainab muncul menghantuinya. Sampai
datanglah Saleh, temannya sewaktu masih di bangku sekolah. Dia membawa kabar
mengenai zainab yang dia ketahui dari istrinya, yaitu bahwa Zainab juga
mencintainya dan sekarang dia tengah menderita karena perasaa yang sudah lama
dia pendam itu. Zainab tidak jadi menikah dengan kemenakkan ayahnya.
Ketika surat Zainab untuk Hamid
datang bersamaan dengan surat Rosna, Hamid menyadari betapa beruntungnya dia
bahwa mengetahui kalau Zainab berperasaan yang sama pada dirinya. Tapi, itu
tidaklah mengubah keadaan, karena semuanya telah terlambat.
Pada hari mengerjakan tawaf,
datanglah surat untuk Saleh dari istrinya Rosnah. Hamid yang waktu itu berada
di atas bangku tandu (karena sakit dan lemah badannya, Hamid tidak bisa
mengerjakan tawaf sendirin) bertanya pada sahabatnya itu, surat apakah itu?
Karena dia melihat adanya perubahan pada wajah Saleh setelah membaca surat itu.
Dengan gugup Saleh mengatakan pada hamid bahwa Zainab telah tiada. Tak lama
setelah mengerjakan tawaf dan berdoa, Hamid pun menyusul Zainab. Ia
menghembuskan nafas terakhirnya di bawah lindungan ka’bah dan pada hari itu
juga jenazahnya di makamkan di pekuburan Ma’al yang Mahsyur.
Sinopsis ini dapat diuraikansebagai berikut
1.
EKSPOSISI
Ketika menginjakan kaki di tanah suci, aku menumpang
di rumah seorang syekh yang pekerjaan dan pencahariaannya dari memberi
tumpangan bagi orang haji. Di tempat tumpangan itu si Aku bertemu dengan
seorang pemuda yang berusia kira-kira 23 tahun. Pemuda itu menurut syekh
berasal dari Sumatra. Dalam beberapa hari si Aku dapat berkenalan dengannya.
- KONFLIK AWAL
Baru dua bulan saja, pergaulan kami yang
baik itu tiba-tiba telah terusik dengan kedatangan seorang teman baru dari
Padang, yang rupanya mereka adalah teman lama. Ia bernama Saleh, menurut kabar
ia hannya tinggal dua atau tiga hari di Mekah sebelum naik haji, ia akan pergi
ke Madinah dulu dua tiga hari pula sebelum jemaah haji ke Arafah. Setelah itu
ia akan meneruskan perjalanannya ke Mesir guna meneruskan studinya. Namun
kedatangan sahabat baru itu, mengubah keadaan dan sifat-sifat Hamid.
- KOMPLIKASI
Setelah beberapa lama kemudian, dengan tidak
disangka-sangka satu musibah besar telah menimpa kami berturut-turut. Pertama
ialah kematian yang sekonyong-konyong dari Engku Haji Ja'far yang dermawan
itu...Kematiannya membawa perubahan, yang bukan sedikit kepada perhubungan
dengan rumah tangga Zainab. Belum beberapa lama setelah budiman itu menutup
mata, datang pula musibah baru kepada diri saya. Ibu saya yang tercinta, yang
telah membawa saya menyebrangi hidup bertahun-tahun telah ditimpa sakit, sakit
yang selama ini telah melemahkan badannya, yaitu penyakit dada.
- KLIMAKS
Setelah kejadian pada pada hari itu, Hamid memutuskan
untuk meninggalkan kota Padang tanpa sepengetahuan Zainab. Hamid menuju kota
Medan, ketika di Medan Hamid mengirimkan surat kepada Zainab, dengan
meberanikan diri mencurahkan segala perasaan yang selama ini dipendamnya.
Setelah dari Medan Hamid menuju ke Singapura, selanjutnya ke Tanah Suci Mekah.
- PENURUNAN KLIMAKS
Kehadiran Saleh memberikan informasi kepada Hamid
tentang keadan di kampungnya dan tentang Zainab. Tentu ini semua membuat
bahagia Hamid. Saleh juga memberi tahu bahwa Zainab mencintai Hamid, Saleh tau
hal tersebut dari istrinya yaitu Rosna yang kebetulan Rosna adalah teman
sepermainannya Zainab.
- PENYELESAIAN
Begitupun dengan Zainab kini ia telah mengetahui
keberadaan Hamid, seseorang yang ia nantikan selama bertahun-tahun. Karena
Saleh pula cinta keduanya jadi terbuka, Hamid dan Zainab kini sama-sama telah
mengetahui perasaan masing-masing, yang ternyata cinta mereka tidak bertepuk
sebelah tangan. Tetapi sebelum keduanya bertemu di tanah air, Tuhan telah
berkehendak lain. Zainab dipanggil-Nya, disusul pula oleh Hamid yang juga di
paggil-Nya.